<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246</id><updated>2011-04-21T20:50:23.212-07:00</updated><title type='text'>OMBAK - Badan Pers Mahasiswa</title><subtitle type='html'>ISSN : 1979-8121 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Hang Tuah Surabaya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-1515105503134201970</id><published>2009-03-03T04:12:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T04:13:55.859-08:00</updated><title type='text'>Indonesia Belum Negara Maritim</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;Indonesia Belum              Negara Maritim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0812/02/opi01.html"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;i&gt;Muhamad Karim&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;            &lt;br /&gt;            Diskusi di Sinar Harapan beberapa waktu lalu mengemuka pernyataan              Prof Dr Hasyim Djalal bahwa Indonesia belum menjadi negara maritim,              melainkan masih dalam proses menuju ke sana. Mengapa pernyataan itu              mengemuka? Jawabnya, sederhana saja. Indonesia belum mampu              memanfaatkan dan mengelola sumber daya kelautan, yakni sumber daya              alam (ikan, tambang), transportasi, pariwisata bahari, industri              bioteknologi dan jasa kelautan. Dus, mengapa kita sekarang sudah              berupaya menggerakkan ekonomi kelautan, tapi justru jalan di tempat?              Apakah ada yang keliru dengan kebijakan pembangunan ekonomi kelautan              kita? Jawabnya adalah bagaimana menganalisisnya dalam kacamata              antropologis, historis dan sosiologis. Secara antropologis, ekonomi kelautan Indonesia berakar pada              kebudayaan masyarakat Indonesia yang sejak dahulu sebagai bangsa              pelaut. Berbagai literatur dan hasil kajian antropologis membuktikan              bahwa manusia Indonesia sudah menjelajahi perairan Nusantara sampai              ke Madagaskar di Afrika pada abad ke-7, masa kolonialisme abad 17-19              sampai menjelang Indonesia merdeka (baca: Antony Reid). Penggalian              situs Delta Sungai Batanghari di Jambi membuktikan bahwa masyarakat              pesisir di wilayah itu sudah menggerakkan aktivitas ekonomi              pesisirnya dengan temuan alat tangkap ikan jenis bubu. Bahkan, di              pelbagai pesisir pantai di Jawa dan Sumatera ditemukan situs perahu              kuno, dan kerajaan maritim Sriwijaya di Sumatera Selatan dan              Kerajaan Banten.  Sebuah hasil riset juga membuktikan aktivitas bisnis teripang sudah              berlangsung sejak abad 14 yang dilakukan orang-orang Sulawesi              Selatan. Bahkan, mereka menangkap teripang sampai ke Australia dan              seluruh perairan Nusantara. Salah satu situs lukisan Gua di Pulau              Muna Sulawesi Tenggara menggambarkan manusia melakukan aktivitas              menangkap ikan dengan menggunakan perahu. Maknanya secara              antropologi, manusia Indonesia memiliki ikatan yang kuat dengan              sumber daya kelautan untuk mempertahankan kehidupannya.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;             “Dual Economic” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            Secara historis-sosiologis membuktikan, perdagangan dan pelayaran              yang berlangsung di Nusantara pada abad 15-19 menjadi penggerak              utama perekonomian kerajaan-kerajaan Nusantara. Bangsa-bangsa Eropa              berupaya keras mencapai Nusantara demi menguasai perdagangan              rempah-rempah yang dihasilkan pulau-pulau kecil di Maluku. Tidak              berbeda dengan pulau lain di Nusantara. Produk unggulan lokal              diperdagangkan secara global dengan basis kekuatannya ekonomi              kelautan. Komoditas dari pantai barat dan pantai timur Sumatera              adalah kapur barus, lada, kopi, dan karet. Dari Kalimantan              diperdagangkan kayu dan hasil hutan lainnya. Komoditas Sulawesi              berupa kayu hitam, kelapa, kapas dan ikan. Dari Nusa Tenggara kayu              cendana.  Pilar ekonomi kelautan adalah komoditas unggulan lokal, perdagangan              antarpulau, internasional serta kepelabuhan dengan basisnya kota              pantai. Mencermati dinamika ekonomi Nusantara masa itu, sejatinya              adalah sebuah model Dual Economic. Di level makro, komoditas              perdagangan internasionalnya bersumber pada pertanian dan tanaman              perkebunan di satu sisi. Tapi, di sisi lain sektor jasanya              transportasi laut. Pada level mikro aktivitas subsistem              masyarakatnya berbasiskan pertanian tanaman pangan dan perikanan.              Buktinya, masyarakat pulau-pulau kecil di Maluku pada masa lalu              selain berprofesi sebagai petani pala dan cengkih, juga beraktivitas              menangkap ikan dengan komoditas andalannya adalah teripang, jenis              ikan pelagis segar maupun yang diolah (ikan kayu). Ini sudah              membudaya dalam komunitas masyarakat pesisir di Indonesia baik yang              bermukim di pulau-pulau kecil maupun pesisir. Tengoklah masyarakat              Kepulauan Raja Ampat, selain berprofesi sebagai nelayan juga sebagai              petani sagu maupun peramu yang diperoleh dari hutan. Makanya, di              daerah ini ada tanah adat dan hutan adat. Tapi, ada juga wilayah              laut yang dimiliki secara adat dengan model pengelolaan berbasiskan              kearifan tradisional.  Sayangnya, sekarang pemerintah justru akan memprivatisasi wilayah              laut dengan konsep Hak Pengelolaan Perairan Pesisir (HP3) yang amat              a-historis. Tidak pernah ada, dalam pengelolaan perairan laut di              Nusantara, termasuk di masa kolonial pun, penguasaan laut Nusantara              oleh pihak pemilik modal apalagi boleh dialihkan (transferability)              dan diperjualbelikan. Sesuatu tanpa akar sejarah adalah “kesesatan”,              dan melembagakannya bisa mengundang konflik.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;             Mengembalikan ”Khitah”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            Secara sosio-antropologis, menggambarkan dinamika interaksi antara              masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir lebih progresif              dibandingkan pedalaman. Dinamika oseanografi perairan laut (gelombang              laut, arus, upwilling, dan angin) cenderung mempengaruhi perilaku              dan sistem nilai dalam konstelasi budaya politik masyarakat              Indonesia. Perilaku yang tegas, jujur, berani, egaliter, terbuka dan              menerima pluralisme lebih dominan berkembang dalam masyarakat              pesisir. Mereka memosisikan dinamika oseanografi sebagai bentuk tantangan              yang membutuhkan keberanian, kejujuran, dan kerja sama antara sesama              komunitas. Masyarakat pesisir memiliki interaksi yang tinggi -              melalui pelayaran dan perdagangan - dengan komunitas internasional              yang beragam entitas budaya, etnik, agama, dan ras. Akibatnya,              mereka lebih berpandangan pluralistik ketimbang masyarakat pedalaman. Sebagai masyarakat pelaut, nelayan, dan pedagang, masyarakat pesisir              dalam berlayar, berdagang dan menangkap ikan mengutamakan sikap dan              budaya keterbukaan, kerja sama, dan egalitarian. Berkembangnya sikap              dan budaya ini karena selalu berhadapan dengan bahaya sewaktu-waktu              yang bersumber dari alam maupun manusia (bajak laut). Perilaku yang              berkembang dalam masyarakat pesisir mirip sistem nilai masyarakat              demokrasi dalam negara modern.  Dekonstruksi antropologis, historis dan sosiologis tersebut di atas              menggambarkan betapa pentingnya ekonomi kelautan yang dibangun              secara dual economic. Pola ini tak hanya mempengaruhi dinamika              ekonomi masyarakat, tapi juga kebudayaan dan sistem nilainya yang              berkembang bahkan sampai kini. Sayangnya, ketika Indonesia merdeka              dan di era Orde Baru sampai reformasi kini, pola dual economic yang              menopang ekonomi kelautan justru tergerus dari akarnya. Padahal, ia              sudah menjadi bagian kebudayaan, dan sistem ekonomi (way of life)              yang berkembang secara turun-temurun di bumi Nusantara ini.  Diperlukan rekonstruksi bangunan puing-puing dual economic berbasis              kelautan sebagai alternatif membangun kekuatan ekonomi bangsa demi              mewujudkan ”negara maritim”. Upaya ini membutuhkan dukungan politik              yang kuat secara institusional dan struktural. Rekonstruksi ini              sekaligus memetakan kekuatan dual economic Indonesia secara geografi              dan geo-ekonomi dari wilayah barat sampai timur. Sudah pasti pula              mengintegrasikan kekuatan ekonomi terestrial dalam bentuk basis              komoditas perdagangan. Inilah kekuatan baru yang secara progresif              mengembalikan ”khitah” Indonesia sebagai negara maritim.&lt;br /&gt;            &lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0812/02/opi01.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis adalah Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan              Peradaban Maritim&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;             &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-1515105503134201970?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/1515105503134201970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/indonesia-belum-negara-maritim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/1515105503134201970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/1515105503134201970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/indonesia-belum-negara-maritim.html' title='Indonesia Belum Negara Maritim'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-8993418872095470640</id><published>2009-03-03T04:10:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T04:11:44.466-08:00</updated><title type='text'>Keamanan Maritim, Keuntungan Politik dan Bisnis</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Keamanan Maritim,              Keuntungan Politik dan Bisnis  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0811/24/opi01.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;             Alman Helvas Ali&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;             &lt;/i&gt;            &lt;br /&gt;            Sulit untuk dibantah bahwa globalisasi dimulai dari laut.              Bangsa-bangsa di dunia dari beragam peradaban di masa lalu              berinteraksi lewat laut. Interaksi itulah yang merupakan cikal bakal              dari globalisasi masa kini. Dalam era globalisasi, ancaman terhadap              keamanan maritim merupakan ancaman terhadap globalisasi karena lebih              dari 90 persen perniagaan dunia menggunakan moda transportasi laut. Oleh karena itu, dapat dipahami bila masyarakat internasional saat              ini sangat khawatir dengan situasi keamanan maritim di perairan              Somalia. Pembajakan kapal super tanker MV Sirius Star bertonase              320.000 ton yang bermuatan minyak mentah pada 16 November 2008              sekitar 400 km dari pantai Somalia menunjukkan hal itu merupakan              ancaman terhadap perniagaan dunia dan sekaligus stabilitas kawasan.              Kasus MV Sirius terjadi saat kasus MV Faina yang bermuatan tank T-72              asal Rusia dengan tujuan Kenya yang dibajak pada awal Oktober 2008              belum dapat diselesaikan.  Menyangkut keamanan maritim di perairan Somalia, DK PBB telah              menerbitkan resolusi No.1816 pada 2 Juni 2008. Resolusi itu              “mendorong” negara-negara lain, khususnya yang memiliki kepentingan              dengan rute maritim komersial di lepas pantai Somalia, untuk              meningkatkan dan mengkoordinasikan upaya-upaya untuk menangkal              perompakan dan pembajakan bersenjata melalui kerjasama dengan              Pemerintahan Transisi Federal Somalia. Resolusi itu kemudian              diperkuat dengan resolusi DK PBB No.1838 pada 7 Oktober 2008 yang              kembali meminta negara-negara berkepentingan untuk menindas              pembajakan di perairan Somalia. Perairan Somalia merupakan wilayah tanggung jawab Armada Kelima AS.              Selain kapal perang Armada Kelima, di sana kini hadir pula kapal              perang dari negara-negara Eropa melalui European Maritime Force (EUROMARFOR),              Prancis, Rusia dan India. Kehadiran mereka di sana adalah untuk              menindas pembajakan, dalam bentuk melakukan pengawalan terhadap              kapal-kapal niaga. Selain itu, hadir pula Blackwater Inc, sebuah              perusahaan keamanan AS yang telah malang melintang di Afghanistan              dan Irak. Perusahaan itu memberikan jasa pengawalan kapal niaga di              sana dan kegiatan itu direstui oleh para pejabat AS di Washington.            &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap Amerika Serikat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            Pertanyaannya kemudian, mengapa sampai kini perairan Somalia justru              makin terancam keamanannya? Tentu banyak kalangan sulit menalar              mengapa pembajakan masih terjadi di depan mata Armada Kelima AS yang              sangat superior, baik dari segi daya tembak, mobilitas, pengindaraan              maupun C4ISR (komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen,              pengamatan dan pengintaian).  Berdiskusi tentang keamanan maritim, seperti yang dilakukan di              Harian Umum Sinar Harapan Kamis 20 November lalu, tidak bisa lepas              dari bicara politik dan ekonomi/bisnis. Aspek politik menyangkut              kepentingan pihak-pihak yang terkait, baik aktor negara maupun non              negara. Dalam kasus Somalia, masa-lah internal Somalia berakar pada              isu pertarungan antar-suku untuk menduduki kekuasaan. Meskipun PBB              dan Barat telah memberikan asistensi kepada Pemerintahan Transisi              Federal Somalia, nyatanya pemerintahan itu nyaris tidak mempunyai              kekuatan untuk menegakkan otoritasnya ke seluruh wilayah Somalia.&lt;br /&gt;            Konflik internal Somalia disinyalir kuat telah mendorong kelompok              teroris Al Qaidah untuk membangun basisnya di negeri itu. Kehadiran              jaringan tersebut jelas mengkhawatirkan Amerika Serikat, apalagi              secara geografis Somalia berada di dekat salah satu choke point              strategis dalam dunia pelayaran. Tidak heran bila pasca serangan 11              September 2001, AS segera membentuk Joint Task Force Horn of Africa              (JTF HOA) yang berkedudukan di Jibouti, negeri kecil tetangga              Somalia yang berhadapan langsung dengan Teluk Aden.&lt;br /&gt;            Sejak itu pula Armada Kelima AS meningkatkan kehadirannya di              perairan Somalia dan sekitarnya. Terkait dengan meningkatnya ancaman              pembajakan di sana, menurut hemat penulis, masalahnya bukan terletak              pada ketidakmampuan Armada Kelima, tetapi pada komitmen politik AS              sendiri. Negeri itu masih mempunyai trauma terhadap Somalia, karena              pasukan kebanggaannya yaitu U.S. Delta Force, Rangers dan U.S. Navy              Seals babak belur di tangan milisi Farah Aidid dalam Pertempuran              Mogadishu, 3-4 Oktober 1993. Penyelesaian masalah pembajakan di              Somalia harus menyentuh pada akar masalah yaitu instabilitas di              daratan Somalia.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;             Indonesia, Selat Malaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            AS terkesan melakukan pembiaran terhadap isu keamanan maritim di              perairan Somalia, meskipun sudah ada resolusi DK PBB yang justru              disponsori olehnya. Keuntungan politik yang didapat AS adalah mereka              mempunyai alasan kuat untuk mempertahankan militernya di Afrika              Timur. Perlu diketahui bahwa sejak 1 Oktober 2007, AS telah              membentuk Komando Afrika AS (U.S. Africa Command) yang wilayah              tanggung jawabnya meliputi seluruh benua Afrika, kecuali Mesir.Isu              keamanan di Afrika Timur mempunyai keterkaitan dengan isu keamanan              di tanah Arab. Dari aspek bisnis, kehadiran Blacwater Inc tidak dapat dilepaskan              dari situasi di Afghanistan dan Irak. Perusahaan ini banyak              menumpahkan darah masyarakat sipil di kedua wilayah, sehingga              kehadiran mereka menyulitkan pemerintah AS sendiri dalam bekerjasama              dengan pemerintahan di kedua negara. Kekacauan di perairan Somalia              merupakan kesempatan emas bagi Blackwater Inc untuk mencari lahan              konflik baru, meskipun keduanya masih terus bercokol di Afghanistan              dan Irak. Bisa dibayangkan berapa juta dolar keuntungan yang akan              mereka raih dengan mengawal kapal-kapal niaga yang lewat Teluk Aden              dan secara hukum mereka sepertinya kebal terhadap tuntutan              pengadilan mana pun. Unsur bisnis juga menghinggapi kegiatan pembajakan yang dilaksanakan              oleh para aktor non negara di Somalia. Bila tebusan untuk satu kapal              niaga saja nilainya jutaan dolar, berapa keuntungan yang mereka raih              dalam setahun. Sementara masalah pembajakan di Somalia sudah              berlangsung bertahun-tahun dan penyelesaiannya selalu melalui              tebusan. Pertanyaannya, siapa yang diuntungkan dari bisnis              pembajakan? Apakah hanya terbatas pada orang-orang Somalia ataukah              ada keterlibatan pihak lain di luar Somalia? Apakah aspek bisnis ini              mempunyai keterkaitan dengan aspek politik seperti yang telah              diuraikan? Yang pasti, salah satu pihak yang diuntungkan adalah para              pedagang senjata Preseden pembajakan di Somalia sangat mungkin terjadi di Indonesia,              khususnya di Selat Malaka. Beberapa kasus perompakan dan pembajakan              di perairan itu bermotif bisnis, artinya ada pihak dengan dukungan              finansial kuat yang mendukung kegiatan para perompak dan pembajak.              Indonesia tetap harus bekerja keras agar tak ada pihak yang              memandang perairan itu dan tiga ALKI sebagai ladang bisnis keamanan              maritim.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            &lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0811/24/opi01.html"&gt;&lt;i&gt;Penulis adalah analis kekuatan dan keamanan maritim.&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-8993418872095470640?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/8993418872095470640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/keamanan-maritim-keuntungan-politik-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/8993418872095470640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/8993418872095470640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/keamanan-maritim-keuntungan-politik-dan.html' title='Keamanan Maritim, Keuntungan Politik dan Bisnis'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-5191125672709929789</id><published>2009-03-03T04:08:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T04:09:48.142-08:00</updated><title type='text'>US$ 50 Miliar Hilang di Sektor Perikanan Laut</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;US$ 50 Miliar              Hilang di Sektor Perikanan Laut&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0811/05/opi01.html"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;i&gt;Daud Sinjal&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;            &lt;br /&gt;            Dunia menderita kerugian US$ 50 miliar setiap tahun di sektor              perikanan laut (marine fisheries) akibat keburukan manajemen,              inefisiensi dan kelebihan tangkap (overfishing). Demikian hasil              kajian bersama Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Bank Dunia,              yang disiarkan 9 Oktober 2008. Kalau dihitung keseluruhannya dalam              tiga dasawarsa terakhir, total kerugian itu US$ 2 triliun.  Laporan hasil kajian itu, berjudul The Sunken Billions: The Economic              Justification for Fisheries Reform, mengingatkan, apabila perikanan              laut dikelola dengan benar, kerugian itu bisa dibalikkan menjadi              keuntungan ekonomi berkelanjutan bagi jutaan nelayan dan masyarakat              pesisir. “Perikanan berkelanjutan mensyaratkan kemauan politik untuk              mengubah dari insentif buat tangkap lebih ke insentif untuk              pembinaan bertanggungjawab,” kata Kieran Kelleher, Ketua Tim              Perikanan Bank Dunia.  Kehilangan rezeki dari perikanan ini terjadi jauh sebelum harga BBM              naik. Padahal usaha dan teknologi penangkapan ikan sudah berkembang              pesat. Penyebab utamanya adalah merosotnya stok ikan di laut. Makin              sedikit ikan yang bisa ditangkap, maka lebih makan ongkos untuk              menjelajah, mencari dan menangkapnya. Terjadi kelebihan kapasitas              armada menjadikan investasi mubazir dan pemborosan ongkos operasi.            &lt;br /&gt;            Pembangunan armada, pemanfaatam peralatan teknologi yang lebih kuat              dan canggih malah menambah pencemaran dan penciutan habitat ikan dan              menurunkan ketersediaan-nya di seluruh perairan dunia. Perikanan              laut mandek, selama lebih satu dekade, terus-terusan berkisar 85              juta ton/tahun. Produktifitas, dihitung dari penangkapan per nelayan              dan per kapal ikan, menurun.  “Terjadi kelebihan kapasitas yang masif pada armada perikanan              global”, kata Kelleher. Dan ekses armada itu memperebutkan hasil              sumber daya ikan yang produknya sudah stagnan dan tidak efisien              secara ekonomi. Menurut FAO, lebih 75 persen stok ikan dunia sudah              dieksploitasi penuh atau malah overexploited.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hak Akses dan Kepemilikan Nelayan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            Perikanan yang sehat secara ekonomi bukan ditentukan hanya oleh              restorasi stok ikan, tapi oleh peningkatan kehidupan layak, ekspor,              ketahanan pangan. Ini harus nampak dari kesinambungan suplai dan              keuntungan dari kegiatan prosesing dan distribusi, dan penyediaan              lapangan kerja. Rasionya, untuk setiap satu orang melaut, ada tiga              orang yang bekerja di darat.&lt;br /&gt;            Laporan ini memaparkan jalan keluarnya, antara lain menegakkan hak              hak nelayan dan masyarakat pesisir dan memberi insentif kepada              mereka untuk bergiat di bidang perikanan secara ekonomis, efisien              dan bertanggungjawab. Hak tersebut adalah akses dan kepemilikan. Dan              untuk kegiatannya, para nelayan, berorganisasi atau berkelompok              merumuskan bersama insentif yang dibutuhkan. Ini sudah tentu tentu              cocok buat Indonesia yang punya garis pantai terpanjang kedua              setelah Kanada (81.000 kilometer) dan pemukim pesisir terbanyak di              dunia. Lagipula hal ini sebenarnya mengembangkan ”rights-based              fisheries” yang diserukan ASEAN tentang perikanan berkelanjutan dan              ketahanan pangan (ASEAN’s Resolution on Sustainable Fisheries for              Food Security for the ASEAN Region). Namun kita harus mewaspadai apa yang dikhawatirkan oleh pengamat              pengamat perikanan dan kelautan IPB, Suhana dan Mohamad Karim              terhadap privatisasi perairan pesisir yang dimungkinkan oleh UU No              27 Tahun 2007. Payung hukum tentang pengelolaan wilayah pesisir dan              pulau-pulau kecil yang berlaku efektif Juli 2008 itu memberikan Hak              Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3). Pemerintah mengharapkan sistem              HP-3 ini memberi pendapatan dari perijinan dan pajak. Tapi dampaknya              bisa membuka peluang eksploitasi sumberdaya alam yang akan merusak              lingkungan. Dan memarjinalkan rakyat yang harus berkompetesi dengan              pihak pemodal yang jauh lebih kuat. (Sinar Harapan, 16 Juli 2008). Perlu pula dicatat, FAO dan Bank Dunia menyatakan bahwa US$ 50              miliar yang “nyungsep” di perikanan laut itu adalah ramalan              konserfativ, dan tidak termasuk dari penangkapan ikan untuk rekreasi              dan pariwisata, serta kerugian akibat pencurian. Nah berarti belum              termasuk kerugian Rp 30 triliun (atau lebih 3 miliar dolar AS) yang              diderita bangsa Indonesia setiap tahunnya oleh illegal fishing.              Angka itu adalah 25 persen dari total potensi perikanan yang              dimiliki Indonesia sebesar 1,6 juta ton per tahun.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Rezeki Orang Lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            Pencurian ikan sering terjadi di Laut China Selatan dan Laut Arafura              oleh kapal-kapal asing. Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi              Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Saud P Hutagalung bilang              pencurian ikan di perairan Indonesia terjadi setiap hari. Pencurian              ikan makin marak pasca kenaikan BBM, karena armada perikanan rakyat              maupun nasional praktis menghentikan operasinya. Dikhawatirkan kapal              kapal patroli TNI-AL dan DKP juga mengurangi pelayarannya, mengingat              perairan yang dikover begitu luas, yakni 70% dari wilayah Nusantara.              Ironisnya, kapal kapal asing seperti yang dari China, Vietnam,              Thailand, Filipina, Malaysia, yang mencuri (di pihak mereka: mencari)              ikan di perairan Indonesia menggunakan BBM yang disubsidi oleh              negaranya.  Maka muncul desakan agar kebijakan penyewaan pesisir dan pulau kecil              yang bisa menyikut hak hidup nelayan ditinjau kembali, dan armada              perikanan kita diberi subsidi. Tapi masih begitu banyak langkah yang              harus ditempuh untuk memulihkan asset perikanan tangkap nasional              senilai Rp 30 triliun, serta memperbaiki neraca perikanan dunia yang              negatif 50 miliar dolar AS untuk kesejahteraan rakyat. Tidak cukup              dengan memberikan hak hak dan insentif kepada nelayan dan masyarakat              pesisir.  Diperlukan tindakan untuk memulihkan lingkungan sumber daya perairan.              Efisiensi tidak bisa lagi hanya bertumpu pada teknologi penangkapan              yang hebat yang malah merusak habitat. Perlu ada moratorium              penangkapan untuk memberi kesempatan pada pemulihan jumlah ikan.              Menggencarkan akuakultur tanpa mencemari dan merusak pesisir. Perlu              bilik bilik pendingin, perlu industri untuk memanfaatkan optimal              hasil tangkapan seperti minyak ikan, tepung ikan, pengalengan,              pengasapan dll. Doktrin klasik menyatakan laut adalah warisan              bersama ummat manusia, tapi sama sekali tidak berlaku bahwa negara              anggota masyarakat dunia itu harus membagi-bagi hasil penggalian              dari warisan itu untuk menyantuni negara negara lain. Maka, kalau              Indonesia tidak mampu menjaga, menggali, memanfaatkan perairannya              sendiri, teritorial mau pun ZEE, maka Rp.30 trilun itu tetap menjadi              rezeki orang lain, secara legal atau pun illegal.&lt;br /&gt;            &lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0811/05/opi01.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis adalah wartawan senior. Juga mengasuh dwimingguan              agribisnis AGRINA. &lt;/i&gt;&lt;/a&gt;             &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-5191125672709929789?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/5191125672709929789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/us-50-miliar-hilang-di-sektor-perikanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/5191125672709929789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/5191125672709929789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/us-50-miliar-hilang-di-sektor-perikanan.html' title='US$ 50 Miliar Hilang di Sektor Perikanan Laut'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-585260738947753873</id><published>2009-03-03T04:05:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T04:06:38.419-08:00</updated><title type='text'>Pengelabuan Nomenklatur Pukat Ikan</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center; font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pengelabuan              Nomenklatur Pukat Ikan  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0811/19/opi01.html"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;i&gt;Ari Purbayanto&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;            &lt;br /&gt;            Ide untuk melakukan moratorium sementara pukat ikan di Laut Arafura              oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) hendaknya disambut dan              disikapi secara bijak. Laut Arafura yang merupakan surga bagi              kegiatan penangkapan ikan dan udang bisa jadi hanya tinggal kenangan              akibat kesalahan pengelolaan. Berbagai hasil penelitian              mengindika-sikan terjadinya penurunan stok ikan di perairan itu.              Bahkan, kondisinya hampir mendekati lebih tangkap (over fishing atau              over exploited). Ini disebabkan oleh banyaknya kegiatan penangkapan              ikan dengan menggunakan pukat ikan dan pukat udang disamping adanya              kegiatan illegal fishing dengan alat tangkap sejenis dan juga trawl              berpasangan (pair trawl) yang jelas-jelas dilarang.  Permasalahan yang terjadi di Laut Arafura yang mesti kita cermati              adalah pengoperasian pukat ikan yang tidak memiliki dasar hukum yang              kuat. Jika melihat ke belakang, diizinkannya pengoperasian pukat              udang di Laut Arafura adalah buntut dari Keppres No. 30 tahun 1980              tentang Penghapusan Trawl di Seluruh Wilayah Indonesia. Lalu              dikeluarkan Keppres No. 85/1982 yang membolehkan pukat udang (trawl              yang dilengkapi oleh alat pemisah ikan) beroperasi di perairan              sekitar Kepulauan Kei, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru, dan Irian              Jaya, yaitu di Laut Arafura di sebelah timur garis 130°BT dan di              luar isobath 10 meter.  Berdasar regulasi tersebut, maka yang boleh beroperasi di Laut              Arafura adalah pukat udang bukan pukat ikan. Pukat ikan atau dikenal              dengan fish net tidak tercatat di dalam buku Statistik Perikanan              Indonesia. Alat tangkap ini hanya diizinkan beroperasi di perairan              ZEE Indonesia Samudera Hindia perairan barat Sumatera sekitar Daerah              Istimewa Aceh dengan batas koordinat 4° LU s.d. 96° BT (SK Menteri              Pertanian 770/Kpts/IK.120/10/96). Pengoperasiannya di Laut Arafura              hanya diatur oleh Juklak Dirjen Perikanan No. IK. 340/DJ.3481/90K,              sehingga tidak memiliki dasar hukum yang kuat.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nomenklatur Pukat Ikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            Salah satu penyebab kesalahan adalah penamaan (nomenklatur) trawl              yang tidak tepat. Penamaan pukat ikan di Indonesia jika merunut pada              penamaan trawl secara internasional menurut International Standard              Statistical Classification on Fishing Gears yang dirilis FAO,              sebagai alat tangkap yang dioperasikan dengan cara menarik/menyeret              jaring pada kolom perairan dengan kapal penangkap. Secara umum              golongan ini dapat dibagi atas trawl dasar yang dioperasikan di              dasar atau dekat dasar perairan (beam trawl, one-boat otter trawl,              two-boat trawl) dan mid-water trawl yang dioperasikan jauh dari              dasar perairan (otter trawl dan two-boat trawl). Trawl diklasifikasikan oleh von Brandt (1984) kedalam kelas alat              tangkap dragged gears (metode penangkapan dengan alat yang diseret).              Kelompok alat tangkap dalam kelas ini memiliki kantong atau dinding              jaring yang diseret/ditarik pada perairan dekat dengan dasar atau              kolom perairan untuk waktu tertentu. Prinsip penangkapannya adalah              menyaring biota perairan yang cenderung pasif dengan alat tangkap              trawl yang aktif. Klasifikasi nasional adalah yang dianut dari Standar Statistik              Perikanan Tangkap Indonesia, terbitan Direktorat Jenderal Perikanan              Tangkap, Depar-temen Kelautan dan Perikanan. Pengklasifikasian ini              dimulai sejak pertama kali diterbitkannya buku statistik perikanan              Indonesia pada 1970-an yang didesain oleh Mr. Yamamoto seorang              konsultan JICA yang bekerja untuk Direktorat Jenderal Perikanan pada              waktu itu. Menurut standar tersebut, alat tangkap yang digunakan di              seluruh Indonesia dibagi menjadi 10 kelompok, dan trawl              diklasifikasikan sebagai pukat udang (shrimp trawl).  Belum adanya standar baku penamaan termasuk standar baku desain dan              konstruksi alat tangkap trawl telah menstimulir munculnya nama-nama              lokal sebagai kamuflase untuk menghindari Keppres No. 39/1980              tentang pelarangan pengoperasian trawl. Pelanggaran dan modus              operandinya diawali dengan pengaburan nama jaring (pukat) yang              secara teknis konstruksi menyerupai trawl seperti jaring dogol,              lampara dasar, arad, cantrang, otok (cotok), dengan cara              memodifikasi sebagian desain-konstruksi dan mengubah cara              pengoperasianya.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akal-akalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            Menurut Juklak Dirjen Perikanan (No. IK. 340/DJ.3481/90K), pukat              ikan didefinisikan sebagai jaring penangkap ikan berbentuk kantong              yang dilengkapi sepasang (2 buah) papan pembuka mulut jaring (otter              board), tujuan utamanya untuk menangkap ikan di perairan pertengahan              (bathy pelagic) dan di perairan dasar (demersal), yang dalam              pengopersiannya ditarik melayang di atas dasar oleh 1 (satu) buah              kapal motor. Pengoperasian pukat ikan ini hanya dilakukan di ZEEI              Samudera Hindia.&lt;br /&gt;            Dapat dikatakan dari fakta tersebut, pukat ikan sebenarnya adalah              trawl yang dioperasikan di atas kolom perairan atau midwater trawl              dan tidak dioperasikan pada dasar perairan sehingga target utama              dari pukat ikan adalah ikan bukan udang, namun yang terjadi di              lapangan adalah pukat ikan menangkap ikan demersal dan udang. Alasan              yang dikemukakan jika diperiksa aparat, udang merupakan hasil              tangkapan sampingan. Pemberian izin oleh DKP kepada pemilik kapal              pukat ikan di Laut Arafura hanya berdasar pada peningkatan PNBP (Penerimaan              Negara Bukan Pajak) dan kepentingan segelintir oknum pengusaha pukat              ikan untuk menghindari pajak yang lebih mahal dibandingkan usaha              penangkapan pukat udang.  Yang perlu dipikirkan adalah upaya menjaga sumberdaya ikan yang              masih ada agar tetap lestari terutama di wilayah pengelolaan              perikanan spesifik seperti Laut Arafura. Moratorium dipandang perlu              demi memulihkan sumberdaya ikan yang ada. Penutupan sementara dapat              dilakukan melalui penutupan izin baru dan tidak memperpanjang              kembali izin operasi kapal pukat ikan yang sudah diberikan.              Sementara itu pengendalian pengoperasian pukat udang dapat dilakukan              dengan cara mendata kembali usaha penangkapan pukat udang, dan tidak              memberikan izin baru hingga sumberdaya ikan tersebut pulih kembali.              Sebagai penutup, penulis menyatakan bahwa penamaan pukat ikan              bertentangan dengan nomenklatur yang ada dan tidak memiliki dasar              hukum yang kuat. Upaya pemerintah beberapa tahun terakhir ini dalam              melakukan standardisasi trawl kedalam “pukat hela” (sebagai contoh              SNI 1-7235-2006 untuk konstruksi pukat hela ganda dan SNI              1-7232-2006 untuk konstruksi pukat hela ikan) kiranya perlu didukung              oleh segenap pemangku kepentingan perikanan sehingga pengelolaan              sumberdaya ikan dapat dilaksanakan lebih baik, yang menyejahterakan              nelayan dan melestarikan sumberdaya.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            &lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0811/19/opi01.html"&gt;&lt;i&gt;Penulis adalah Guru Besar Teknologi Penangkapan Ikan, Departemen              Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu              Kelautan-IPB.&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-585260738947753873?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/585260738947753873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/pengelabuan-nomenklatur-pukat-ikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/585260738947753873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/585260738947753873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/pengelabuan-nomenklatur-pukat-ikan.html' title='Pengelabuan Nomenklatur Pukat Ikan'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-1546538604258108614</id><published>2009-03-03T04:02:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T04:04:15.341-08:00</updated><title type='text'>Menantikan Pembangunan Hukum Kelautan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Menantikan              Pembangunan Hukum Kelautan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0901/19/opi01.html"&gt;Akhmad Solihin&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Sebagai negara kepulauan hingga saat ini Indonesia senantiasa              dihadapkan pada kompleksitas permasalahan di wilayah laut. Pada              bidang hukum, misalnya, Indonesia masih dihadapkan pada beberapa              permasalahan seperti tumpang tindih peraturan perundang-undangan              yang berujung pada konflik kewenangan antarlembaga. Selain itu,              Indonesia dihadapkan pada masalah adanya kekosongan hukum dalam              menciptakan bangunan hukum yang utuh dan terintegrasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt; Sementara itu, sebagaimana kita ketahui, pada bulan Oktober yang              lalu DPR telah mengesahkan Undang-undang Wilayah Negara dalam              mengatasi permasalahan kekosongan hukum terkait dengan permasalahan              kewilayahan, baik yang bersifat politik maupun ekonomi. Hal ini              sebagaimana tujuan yang termaktub dalam wilayah negara, yaitu              menjamin keutuhan wilayah dan kedaulatan negara serta mengatur              pengelolaan dan pemanfaatan wilayah negara dan kawasan perbatasan.              &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Keberhasilan pengesahan UU Wilayah Negara adalah salah satu bentuk              political will Pemerintah dalam membangun Indonesia sebagai negara              kepulauan. Yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah kehadiran UU              Wilayah Negara sudah dianggap mampu menuntaskan kompleksitas              permasalahan bangsa di wilayah laut? Kompleksitas permasalahan dalam              membangun kelautan Indonesia dimulai dari ego-sektoral. Beberapa              lembaga negara merasa berhak mengelola laut, sehingga mereka              merancang suatu undang-undang untuk dijadikan dasar hukum untuk              menjalankan wewenangnya. Akibatnya, terjadi tumpang tindih peraturan              perundang-undangan dan menciptakan inefisiensi serta konflik              kewenangan antarlembaga. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koordinasi Hanya di Atas Kertas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Konflik kewenangan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu              Pertama, konflik kewenangan dalam pengelolaan sumber daya di wilayah              laut, termasuk pemberian izin pemanfaatan. Contohnya antara              Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan Departemen Kehutanan (Dephut)              yang mempunyai mandat dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan.              Dephut mendapatkan pengakuan hukum dari UU No 5 Tahun 1990 tentang              Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta UU No 41              Tahun 1999 tentang Kehutanan. Sementara itu, DKP mendapatkan              pengakuan hukum dari UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan UU No              27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau              Kecil. Selain itu, konflik tata ruang di wilayah pesisir antara UU              No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dengan UU No 27 Tahun 2007.              Belum lagi UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil,              yang memberi Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP3) yang ditolak              beberapa kelompok masyarakat, khususnya kalangan pemerhati              lingkungan hidup.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Kedua, setidaknya terdapat delapan lembaga penegak hukum yang              berwenang di wilayah laut, yaitu TNI AL, Polri, PPNS DKP, PPNS              Departemen Perhubungan, PPNS Bea Cukai, PPNS Imigrasi, PPNS              Lingkungan Hidup, dan PPNS Dephut. Bila dikelompokkan pada batasan              wilayah kewenangannya, terdapat tiga kelompok, yaitu (1) lembaga              yang memiliki kewenangan hanya terbatas pada wilayah perairan              Indonesia atau pada wilayah yang dikelompokkan statusnya kedaulatan              negara, seperti Polri, PPNS Dephub, PPNS Dephut; (2) lembaga yang              memiliki kewenangan pada wilayah perairan Indonesia yang statusnya              kedaulatan negara dan Zona Tambahan, Zona Ekonomi Eksklusif              Indonesia, serta Landas Kontinen yang statusnya hak berdaulat              (sovereign rights) yang tentu saja bersifat spesifk, seperti PPNS              DKP, PPNS Bea Cukai, PPNS Imigrasi, dan PPNS Lingkungan Hidup, (3)              lembaga yang memiliki kewenangan pada wilayah perairan Indonesia              yang statusnya kedaulatan negara dan hak berdaulat, seperti TNI AL.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt; Banyaknya lembaga penegak hukum di wilayah laut, bukan berarti              masalah pelanggaran semakin sedikit dan wilayah laut bebas dari              segala tindakan ilegal. Masih maraknya tindakan pelanggaran hukum              tersebut bukan hanya disebabkan oleh minimnya sarana dan prasarana              di antara lembaga penegak hukum, tetapi lebih dari itu.              Masing-masing lembaga tersebut dihadapkan pada masalah “koordinasi”.              Meskipun beberapa undang-undang telah mengamanatkan dilakukannya              koordinasi dalam penegakan hukum, pada praktiknya kata “koordinasi”              hanya berlaku di atas kertas. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembangunan Hukum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Prof Hasjim Djalal mengatakan ketidakjelasan koordinasi dan              pembagian wewenang serta tanggung jawab di antara pejabat yang              berwenang di berbagai bidang tersebut akan menimbulkan kerancuan,              overlapping jurisdiction dan memungkinkan terjadinya conflicting              jurisdiction. Sudah semestinya Pemerintah merancang bangunan hukum              di bidang kelautan secara komprehensif dan integralistik. Ketiadaan              konsep ini hanya akan menyebabkan wilayah laut menjadi ajang              pertarungan kepentingan, yang hanya akan mengorbankan sumber daya              laut. Oleh karena itu, pada tahun 2009 Pemerintah harus mampu              membuat undang-undang yang selama ini tersimpan dalam laci.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Strategi dalam menciptakan bangunan hukum di bidang kelautan, di              antaranya pertama, harmonisasi hukum. Strategi ini didasarkan pada              terjadinya tumpang tindih peraturan perundang-undangan, baik              antarundang-undang maupun antara undang-undang dengan peraturan              pelaksana atau peraturan di bawahnya. Tentu saja, harmonisasi              tersebut harus mengedepankan asas kedaulatan demi terjaganya NKRI              serta asas kenusantaraan dalam menjaga kepentingan seluruh              Indonesia. Dengan harmonisasi, diharapkan konflik kewenangan              antarlembaga negara, khususnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan              sumber daya dapat menjamin pembangunan berkelanjutan dan menciptakan              kesejahteraan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt; Kedua, restrukturisasi lembaga penegak hukum. Meskipun sudah              dibentuk Badan Koordinasi Keamanan Laut (BAKORKAMLA), benturan di              antara lembaga penegak hukum masih kerap terjadi. Oleh karena itu,              gagasan beberapa pakar mengenai pembentukan Coast Guard atau Penjaga              Laut dan Pantai harus segera mendapatkan perhatian pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Ketiga, percepatan penyusunan perundang-undangan. Terkait dengan              masih adanya kekosongan hukum, percepatan penyusunan peraturan              perundang-undangan harus dilakukan. Tentu saja dengan memperhatikan              ketentuan-ketentuan yang sudah ada. Dengan kata lain, perlu adanya              undang-undang baru yang melengkapi dari undang-undang yang sudah ada,              seperti perlunya penyusunan UU Perairan Pedalaman dan UU Zona              Tambahan. Selain itu, UU No 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen              perlu segera direvisi karena UU ini masih mengacu pada ketentuan              Konvensi Jenewa 1958 yang hanya mendasarkan pada kedalaman laut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;a style="font-style: italic;" href="http://sinarharapan.co.id/berita/0901/19/opi01.html"&gt;Penulis adalah dosen Departemen Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan              FPIK-IPB dan Staf Peneliti Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan              Lautan-Institut Pertanian Bogor (PKSPL-IPB). &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-1546538604258108614?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/1546538604258108614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/menantikan-pembangunan-hukum-kelautan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/1546538604258108614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/1546538604258108614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/menantikan-pembangunan-hukum-kelautan.html' title='Menantikan Pembangunan Hukum Kelautan'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-240931232869827503</id><published>2009-03-03T04:00:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T04:02:02.088-08:00</updated><title type='text'>Dari Laut Wujudkan Kedaulatan Pangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari Laut Wujudkan              Kedaulatan Pangan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0901/31/opi01.html"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;i&gt;Muhamad Karim&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Ancaman krisis pangan masih saja menghantui Indonesia. Sekalipun              tahun 2008 dinyatakan dapat berswasembada beras, ketidakpastian              iklim global saat ini juga menjadi ancaman serius. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Hujan yang melanda Pulau Jawa awal tahun 2009 ini telah              menghancurkan ribuan hektare sawah. Kondisi ini tentu amat              mengkhawatirkan. Upaya menciptakan keanekaragaman pangan adalah              sebuah keniscayaan, salah satu sumbernya dari lautan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt; Luas lautan Indonesia yang mencapai 5,8 juta km2 menyediakan sumber              pangan melimpah. Lautan menyediakan sumber pangan berupa ikan,              crustacea, kerang-kerangan, dan rumput laut. Masalahnya, kita              memanfaatkan sumber pangan lautan ini sering kali masih dalam bentuk              segar, kecuali rumput laut. Ekspor ikan Indonesia pun masih dalam              bentuk ikan segar. Proses diversifikasi pangan bersumber dari lautan              masih minim. Kalaupun ada kuantitasnya relatif terbatas, seperti              nugget ikan, bakso ikan, dan jenis pengolahan lainnya.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Ikan masih dominan diolah secara tradisional, menjadi ikan asin,              ikan kering, dan ikan kayu. Kita belum menemukan makanan cepat saji              berbahan baku ikan. Kebanyakan makanan cepat saji masih berbahan              baku daging ternak besar maupun unggas. Bahkan, merek dagangnya pun              dari luar negeri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Mengapa hal itu bisa terjadi? Pertama, kultur pangan. Sekalipun              perairan laut Indonesia amat luas, jumlah penduduk Indonesia yang              mengonsumsi sumber pangan dari lautan relatif kecil. Konsumsi ikan              penduduk Indonesia per kapita baru mencapai 25 kg per tahun.              Bandingkan dengan Jepang yang mencapai di atas 100 kg per kapita per              tahun.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Kondisi ini berkorelasi dengan kultur masyarakat Indonesia. Pulau              Jawa yang penduduknya mencapai 60% dari total penduduk Indonesia              tidak memiliki tradisi pangan seafood. Sementara itu, sebagian besar              penduduk luar Jawa mengonsumsi ikan, seperti Sulawesi, Maluku,              Papua, dan sebagian besar pesisir Sumatera dan Kalimantan. Akan              lebih afdol, jika pemerintah dan masyarakat mulai membudayakan              konsumsi pangan bersumber dari lautan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bermazhab Beras&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Kedua, teknologi. Penguasaan teknologi pengolahan pangan lautan              masih berkutat pada teknologi tradisional. Model teknologi              pengolahan ikan asing, kering, ikan kayu, dan pindang masih              mendominasi. Kita belum mencapai teknologi madya dalam pengolahannya.              Buktinya, Indonesia sampai kini masih saja mengimpor tepung ikan dan              garam. Industri tepung ikan maupun garam kita terbentur problem              teknologi. Makanya, mengupayakan pengembangan teknologi              penganekaragaman pangan menjadi penting.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt; Ketiga, geger budaya. Masyarakat Indonesia kerap kali mengalami              problem ”geger budaya” termasuk dalam aspek pangan. Masyarakat              merasa kurang percaya diri apabila tidak mengonsumsi pangan yang              berlabel asing. Apalagi, kalangan muda Indonesia, menganggap diri              ”kampungan” bila belum masuk restoran cepat saji yang namanya sudah              marketable.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Padahal, gizi makanan cepat saji belum tentu mengandung asupan gizi              yang mencukupi kebutuhan tubuh manusia. Kemenangan usaha makanan              cepat saji—sebagian besar milik perusahaan multinasional—adalah              citra yang terbentuk. Padahal, kalau mengembangkan makanan cepat              saji berbahan baku ikan dibarengi citra tersendiri akan lain              ceritanya. Apalagi yang melakukannya masyarakat kita sendiri. Upaya              ini selain mengandung unsur nilai-nilai kebangsaan, juga mampu              “menganekaragamkan” produk pangan. Diversifikasi pangan tak hanya              bersumber di daratan, melainkan juga di lautan. Implikasinya,              Indonesia jauh dari ancaman krisis pangan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt; Keempat, politik pangan Indonesia selama ini cenderung bermazhab              beras. Penganekaragaman pangan dan produknya masih sebatas slogan.              Sebab, ukuran keberhasilan mencapai swasembada pangan bukan sekadar              indikator keberhasilan suatu rezim pemerintahan melainkan juga              sebagai dagangan politik pemegang pemerintahan yang sedang berjalan.              &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Padahal, apabila pemerintah membebaskan rakyat untuk mengupayakan              keanekaragaman dan mendiversifikasikan pangannya, hal itu otomatis              akan menjauhkan rakyat dari ancaman krisis. Salah satunya melalui              sumber pangan dari lautan. Inilah yang kurang mendapatkan perhatian              serius sejak pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, maupun pada masa              reformasi hingga saat ini. Politik pangan semacam ini telah              menggerus kearifan lokal rakyat di pedesaan pesisir maupun pedalaman              dalam menyediakan pangan secara berdaulat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Urgensi Kedaulatan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Dalam medio awal tahun 2009 ini, di Menado akan berlangsung              konferensi kelautan dunia atau World Ocean Conference (WOC). WOC ini              akan dihadiri lebih dari 100 negara dari berbagai belahan dunia.              Forum ini pasti akan membahas agenda-agenda penting mengenai              kelautan dunia. Amat penting forum ini juga memasukkan isu              “kedaulatan pangan” yang bersumber dari lautan sebagai salah satu              agendanya, karena ancaman krisis pangan sudah menjadi kepedulian              seluruh masyarakat dunia internasional.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Ancaman iklim global yang sudah menjadi kekhawatiran dunia, termasuk              pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Barack H              Obama yang baru saja dilantik, mendapatkan prioritas. Iklim global              memang akan menaikkan suhu permukaan bumi dan permukaan lautan. Tapi,              dampak lanjutannya akan mengancam sumber pangan di darat maupun              lautan. Iklim global akan menimbulkan kekeringan, banjir, badai dan              topan yang menimbulkan kegagalan panen dari pertanian tanaman pangan.              Juga, kenaikan suhu lautan mengancam kehidupan terumbu karang yang              menjadi habitat ikan, dan terputusnya mata rantai makanan di lautan.              &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Apabila rantai makanan terputus, berbagai jenis plankton yang rentan              terhadap perubahan suhu ekstrem akan mengalami kematian. Padahal,              plankton selain berperan sebagai produktivitas primer yang              menghasilkan oksigen juga berperan sebagai sumber pakan bagi jenis              ikan pada tingkatan suatu level rantai makanan di lautan. Berbagai              riset tahun 2007 memprediksikan, apabila dampak iklim global ini tak              diatasi maka baru pada tahun 2050 kita akan menikmati lagi seafood.             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Mengapa? Terputusnya suatu komponen dalam rantai makanan akan              memutuskan suatu sistem kehidupan dalam lautan.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Maka, ide mengupayakan keanekaragaman pangan dan produknya bersumber              dari lautan menjadi keniscayaan guna mewujudkan kedaulatan pangan.              Jadi, pangan tak hanya bersumber dari daratan semata. Inilah              substansi mengapa isu kedaulatan pangan menjadi urgen untuk diangkat              dalam forum WOC. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0901/31/opi01.html"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;i&gt;Penulis adalah Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan              Peradaban Maritim.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-240931232869827503?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/240931232869827503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/dari-laut-wujudkan-kedaulatan-pangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/240931232869827503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/240931232869827503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/dari-laut-wujudkan-kedaulatan-pangan.html' title='Dari Laut Wujudkan Kedaulatan Pangan'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-3594548390834708087</id><published>2009-03-03T03:53:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T03:59:21.444-08:00</updated><title type='text'>11 Tahun Pers Tanpa Tekanan Pemerintah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;11 Tahun Pers Tanpa Tekanan Pemerintah  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0902/11/opi01.html"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;             &lt;i&gt;Atmakusumah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Belum pernah terjadi selama Indonesia merdeka, pers kita dalam kurun              waktu yang cukup lama tidak lagi mengalami tekanan dari pemerintah.              Barulah sekarang ini, sudah hampir 11 tahun pers kita mendapat              peluang untuk sepenuhnya memanfaatkan kebebasan pers. Pemberedelan              pers, seperti juga sensor dan penghentian siaran oleh siapa pun,              dilarang oleh Undang-Undang (UU) Pers yang berlaku sekarang.              Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, yang disetujui              DPR 13 September 1999 dan disahkan oleh Presiden Habibie 10 hari              kemudian, dengan tegas menyatakan (Pasal 4 Ayat 2): “Terhadap pers              nasional tidak dikenakan penyensoran, pemberedelan, dan pelarangan              penyiaran.”  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Sebelumnya, UU Pokok Pers Tahun 1966 dan Tahun 1982 juga menegaskan              ketentuan yang sama, dan untuk penerbitan, pers “tidak memerlukan              Surat Izin Terbit.” Akan tetapi, ketentuan tentang SIT tersebut              dalam undang-undang tahun 1966 dikaburkan oleh Pasal 20 Ayat (1)-a              yang berisi, “Dalam masa peralihan keharusan mendapatkan Surat Izin              Terbit masih berlaku sampai ada keputusan pencabutannya oleh              Pemerintah dan DPR (GR).” Ayat itu dihapus dalam undang-undang tahun              1982. Akan tetapi, sebaliknya, undang-undang ini menetapkan pada              Pasal 13 Ayat (5) bahwa “Setiap penerbitan pers yang diselenggarakan              oleh perusahaan pers memerlukan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers              yang dikeluarkan oleh Pemerintah.” Ketentuan SIT dan SIUPP ini terus              berlaku sampai akhir masa Orde Baru dan lahirnya UU Pers tahun 1999.              &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Undang-undang pers yang membatasi kebebasan pers pada masa Indonesia              merdeka baru dilahirkan pada 12 Desember 1966. Namun, tekanan              terhadap pers sudah dimulai sejak tahun-tahun awal kemerdekaan.              Surat kabar Revolusioner yang terbit di Yogyakarta, dilarang beredar              ketika memuat tulisan yang menyebut Presiden Soekarno “bombastis”.              Koran Soeara Moeda di Solo diberedel dengan tuduhan pro swapraja,              ketika di kota itu orang sedang gandrung anti-swapraja. Harian              Soeara Rakyat edisi Kediri diberedel beberapa hari oleh gubernur              militer Jawa Timur karena memuat berita penembakan mati Muso,              pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memimpin pemberontakan              di Madiun. Pemerintah RI di Yogyakarta pada September 1948              memberedel tiga surat kabar lokal yang berhaluan politik kiri:              Revolusioner, Patriot, dan Soeara Iboekota.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Lisensi Orde Lama dan Orde Baru &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Kebebasan pers tetap tidak terjamin setelah penyerahan kedaulatan 27              Desember 1949. Selama beberapa tahun berikutnya terjadi penutupan              kantor berita dan sejumlah surat kabar. Juga penahanan terhadap              sejumlah wartawan kita dan pengusiran terhadap beberapa wartawan              asing. Pada 1957, tercatat 20 kasus pemberedelan sementara di              Jakarta dan 11 kasus pers di luar Ibu Kota. Mochtar Lubis, pemimpin              redaksi harian Indonesia Raya, dikenai tahanan rumah dan              dipenjarakan selama sembilan tahun hampir terus-menerus karena              disangka “terlibat komplotan Zulkifli Lubis.” Pada 1958, 12 surat              kabar di Jakarta dilarang terbit sementara. Sementara itu di daerah,              tercatat 21 kasus penindakan terhadap pers. Selama tahun 1959,              dilakukan pemberedelan terhadap 25 surat kabar di Jakarta dan enam              surat kabar daerah.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Selain pemberedelan, juga ada keharusan pemilikan izin terbit bagi              media pers cetak. Pada 1 Oktober 1958, semua surat kabar dan majalah              harus didaftarkan kepada Penguasa Perang Daerah Jakarta Raya (Peperda              Jaya) untuk memperoleh Surat Izin Terbit (SIT). SIT akhirnya              diberlakukan di seluruh Indonesia mulai 12 Oktober 1960 berdasarkan              Peraturan Penguasa Perang Tertinggi (Peperti) Nomor 10 Tahun 1960.              Inilah awal pemberlakuan lisensi bagi media pers cetak di Indonesia              pada masa merdeka. Sebelum ini, hanya pernah terjadi pada masa              pendudukan militer Jepang selama Perang Dunia Kedua. Tidak ada              lisensi seperti ini pada masa penjajahan Belanda.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Pada Februari 1965, Presiden Soekarno memerintahkan penutupan              koran-koran pendukung Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS) yang              dituduh anti-Soekarnoisme. Menjelang akhir tahun 1965, ketika              berlangsung masa transisi ke Orde Baru, 46 surat kabar—dari 163              surat kabar yang ada di seluruh Indonesia—diberedel tanpa batas              waktu. Kebanyakan yang diberedel adalah terbitan Partai Komunis              Indonesia, atau dianggap bersimpati kepada PKI, atau “tidak menaati              Undang-Undang Pers.” Larangan terbit terhadap media pers hampir              terus-menerus berlangsung selama masa Orde Baru dan barulah berakhir              dengan penutupan dua majalah berita, Tempo dan Editor, serta tabloid              politik Detik pada 1994. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tekanan Hukum, Pengusaha, dan Publik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Walaupun tekanan dari pemerintah terhadap media pers diharapkan              benar-benar berakhir pada masa Reformasi, kebebasan pers kita belum              sepenuhnya terlindungi dan terjamin. Masih ada tekanan-tekanan lain              yang menggelisahkan para pengelola media pers kita. Tekanan ini              dapat berasal dari apa yang disebut sebagai kriminalisasi pers,              yaitu penggunaan hukum pidana yang represif, seperti Kitab              Undang-Undang Hukum Pidana yang dapat memenjarakan wartawan karena              karya jurnalistiknya sampai maksimal tujuh tahun.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Tekanan juga dapat berasal dari para pengusaha yang lebih memilih              jalur hukum untuk menyelesaikan sengketa dengan media pers. Jalur              hukum pidana memungkinkan wartawan mendapat sanksi penjara,              sedangkan jalur hukum perdata dapat menyebabkan perusahaan pers              terkena sanksi denda yang tinggi. Jika hukuman denda sedemikian              tinggi, itu akan membangkrutkan perusahaan pers, maka akibat yang              dialami media pers tidak ubahnya seperti pemberedelan melalui jalur              hukum.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Tekanan lain yang agak sering terjadi, terutama pada tahun-tahun              awal Reformasi, berasal dari publik yang melakukan aksi kekerasan.              Harian Jawa Pos di Surabaya pernah tidak terbit satu edisi karena              para wartawannya tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya ketika              didemonstrasi sampai hampir tengah malam sebagai protes terhadap              berita yang tidak akurat. Harian Radar Sulteng di Palu menghentikan              penerbitannya selama tiga hari karena tekanan para demonstran yang              memprotes satu tulisan. Tabloid Bijak di Padang tidak pernah terbit              lagi sejak peralatan kantornya dirusak oleh para demonstran. Radio              Rasitania FM di Solo menghentikan siaran selama satu minggu atas              tuntutan para demonstran yang menentang satu talkshow tentang agama.              &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Kita berharap bahwa tekanan-tekanan ini, terlebih lagi tindakan              kekerasan oleh massa, lambat laun akan berakhir sejalan dengan              pemahaman kita terhadap makna pers yang kritis dan independen di              sebuah negara demokrasi. Memang, ketidakpahaman di kalangan              masyarakat tentang kedudukan pers sebagai tempat untuk menyalurkan              aspirasi publik hingga kini masih berkembang. Hak jawab atau              klarifikasi dari subjek berita yang ingin mengemukakan versinya              adalah salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://sinarharapan.co.id/berita/0902/11/opi01.html"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;             Penulis adalah pengajar Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), dan Ketua              Dewan Pengurus Voice of Human Rights (VHR) News Centre di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-3594548390834708087?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/3594548390834708087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/11-tahun-pers-tanpa-tekanan-pemerintah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/3594548390834708087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/3594548390834708087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2009/03/11-tahun-pers-tanpa-tekanan-pemerintah.html' title='11 Tahun Pers Tanpa Tekanan Pemerintah'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-8035484307341442141</id><published>2008-12-01T21:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T22:06:15.974-08:00</updated><title type='text'>Hukum Laut atau Hukum Maritim?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Hukum Laut atau Hukum Maritim?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Oleh Dhiana Puspitawati, SH. LLM. PhD&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dosen Fakultas Hukum Universitas Hang Tuah Surabaya&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perkembangan masalah kelautan belakangan ini sangat menggembirakan. Diawali  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;gagasan Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar untuk membentuk kaukus kelautan di  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tubuh DPR serta kesiagaan Marinir menjaga lima pulau terluar di perairan  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;selatan Indonesia yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia. Setelah  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;itu, optimisme KSAL untuk mengamankan Selat Malaka yang rawan akan terorisme  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dan perompakan serta usul Prof Dr Dimyati Hartono untuk membentuk peradilan  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;maritim yang khusus menangani kasus maritim.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hal-hal tersebut merupakan bukti meningkatnya kepedulian terhadap ocean  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;affairs. Tetapi, bila kita cermati, timbul kebingungan dalam memahami istilah  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;laut dan maritim. Apalagi, jika disertai kata hukum sehingga menjadi hukum laut  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dan hukum maritim. Memang, kedua istilah itu jatuh dalam lingkup ocean affairs,  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tetapi mempunyai ruang lingkup yang berbeda. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Hukum Laut dan Hukum Maritim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Most comprehensively viewed, the international law of the sea comprises two  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;very different sets of principles. One set of principles, establishing certain  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;basic, overriding community goals, prescribes for all states the widest  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;possible access to, and the fullest enjoyment of, the shared use of the great  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;common resource of the oceans. The other set of principles, commonly described &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;as jurisdictional, expresses certain implementing policies designed  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;economically to serve the basic community goals of shared use by establishing a  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;shared competence among states in a domain largely free from the exclusive  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;public order of any particular state." (McDougal: 1960).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lahirnya Konvensi Hukum Laut 1982, yang lebih dikenal dengan sebutan UNCLOS &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1982, menandai suatu era baru dalam hukum laut internasional. Tetapi bila  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dicermati, walaupun UNCLOS 1982 mengatur hampir semua aspek kelautan, UNCLOS &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1982 tidak mengatur the use of ocean as a means to transport people and their &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;goods from place to place (marine transport). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hal itu tidaklah aneh karena memang nyatanya marine transport did not belong &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dalam public domain sehinga berada di luar scope UNCLOS. Dari sinilah muncul &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;hukum maritim yang lebih mengatur pada lalu lintas commercial ships atau marine &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;transport, baik sebagai alat transportasi orang maupun pengangkut barang lewat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;laut. Karena itu, tidak dapat dimungkiri bahwa hukum maritim juga "berangkat" &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dari ocean affairs.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hukum laut atau yang lebih dikenal dengan the law of the sea lebih mengarah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kepada pengaturan-pengaturan publik yang bisa dikatakan lebih luas. Misalnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;saja, masalah kedaulatan suatu negara akan wilayah lautnya serta pengaturan hak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;lintas kapal asing. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Suatu contoh kasus hukum laut adalah kasus Bawean 2003 tentang hak lintas &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Armada Angkatan Laut Amerika melalui ALKI Timur-Barat serta penentuan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;pulau-pulau terluar Indonesia untuk penarikan archipelagic baselines dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kasus-kasus pencemaran laut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sengketa yang timbul dari hukum laut lebih melibatkan negara sehingga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;penyelesaiannya lebih mengarah kepada dirumuskannya suatu bilateral atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;multilateral agreement. UNCLOS jugamengenal law of the sea tribunal untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;penyelesaian sengketa hukum laut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sementara itu, hukum maritim atau yang biasa disebut maritime law mengatur &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;akibat-akibat dari penggunaan laut sebagai alat transportasi, mencakup hal-hal &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;seperti collisions, salvage, towage, pilotage, serta marine insurance. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hal-hal semacam itu belum diatur khusus di Indonesia. Aturan tentang peran &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;pandu (pilotage) dan marine insurance masih mengacu pada Kitab UU Hukum Dagang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(KUHD). Dengan demikian, perlu juga dipikirkan kemungkinan perumusan suatu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Indonesian Maritime Act.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan demikian, hukum maritim lebih mengarah ke pengaturan-pengaturan private. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sengketa yang timbul dari hukum maritim inilah yang mungkin memerlukan suatu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;peradilan khusus di bidang maritim. Hanya, perlu diingat lagi bahwa sebenarnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kita sudah punya Dewan Maritim Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Dewan Maritim Indonesia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perlunya pendirian peradilan khusus yang menangani kasus maritim mungkin bisa  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;disubstitusikan dengan "menggemukkan" fungsi Dewan Maritim Indonesia (DMI).  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebelum melangkah ke pembentukan lembaga lain kelautan, seperti kaukus kelautan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;atau peradilan kemaritiman, perlu dipertimbangkan efektivitas lembaga kelautan  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saat ini, kewenangan DMI sesuai dengan pasal 1 Keppres No 77/1996 adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;mengoordinasikan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kelautan dan sama sekali tidak mencakup ruang lingkup hukum maritim sebagaimana &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;diuraikan di atas. Dengan demikian, akan lebih tepat jika DMI disebut dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dewan Kelautan Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sangatlah disayangkan bahwa kewenangan DMI yang beranggota politisi, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;pemerintah, swasta, maupun NGO "hanya" terbatas pada koordinasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kebijakan-kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan kelautan. Dewan tersebut &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;hanya bersifat sebagai consultative forum. Karena itu, dalam hal law &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;enforcement, lembaga itu terkesan toothless. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang kita perlukan sebenarnya lembaga kelautan yang terpadu sekaligus punya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kewenangan untuk menelurkan suatu kebijakan dan peraturan perundang-undangan di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;semua bidang kelautan yang juga mencakup bidang maritim serta sebagai forum &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;penyelesaian sengketa. Dengan kata lain, lembaga yang ramping, tapi kaya fungsi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dengan struktur mandiri. Lembaga tersebut bukan saja beranggota orang-orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;yang peduli terhadap masalah kelautan, tetapi juga expertise-expertise dalam  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;bidang hukum kelautan dan hukum kemaritiman yang diharapkan dapat merumuskan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;suatu integrated ocean policy.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Integrated Ocean Policy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pengaturan kebijakan-kebijakan, baik di bidang kelautan maupun kemaritiman,  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;saat ini masih bersifat sektoral dan tersebar di Departemen Kelautan dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perikanan, Departemen Perhubungan, dan Departemen Perdagangan. Ditambah lagi, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;otonomi daerah di seluruh tingkat pemerintahan, baik pusat, provinsi, kota &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;maupun kabupaten, punya andil dalam pengaturan pengelolaan kelautan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan demikian, batas-batas kewenangan antartingkat pemerintah tersebut &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;menimbulkan suatu permasalahan. Hal itu dapat mengakibatkan tumpang tindihnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kebijakan dan peraturan yang berhubungan dengan kelautan dan kemaritiman. Di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;sinilah perlunya suatu integrated ocean policy yang berfungsi sebagai umbrella &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;policy bagi ocean affairs. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Dhiana Puspitawati SH LLM, PhD &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Candidate bidang the Law of the Sea, T.C. Beirne  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: arial;font-size:100%;" &gt;School of Law, The University of Queensland, Australia. Staf pengajar Fakultas  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: arial;font-size:100%;" &gt;Hukum Universitas Hang-Tuah Surabaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre style="font-family: arial;"&gt;&lt;/pre&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-8035484307341442141?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/8035484307341442141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2008/12/hukum-laut-atau-hukum-maritim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/8035484307341442141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/8035484307341442141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2008/12/hukum-laut-atau-hukum-maritim.html' title='Hukum Laut atau Hukum Maritim?'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-2564154690176456513</id><published>2008-12-01T20:37:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T21:08:54.386-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Harus Berorientasi Kemaritiman</title><content type='html'>&lt;p  style="text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pendidikan Harus Berorientasi Kemaritiman&lt;br /&gt;&lt;span style="color:Blue;"&gt;Lakukan Penelitian mengenai Kelautan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Surabaya, Kompas - &lt;/span&gt;Indonesia harus mendirikan sekolah menengah dan politeknik yang berorientasi kelautan. Hal ini untuk mencetak pemimpin yang berwawasan kelautan, mengingat Indonesia merupakan negara maritim. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gubernur Akademi Angkatan Laut Mayor Jenderal TNI (Mar) Nono Sampono&lt;/span&gt; menuturkan, salah satu penyebab Indonesia tidak memerhatikan sektor kelautan adalah pemimpin yang tidak berorientasi kelautan. "Sejak di pendidikan dasar murid diarahkan pada orientasi kedaratan. Murid SD selalu diajar menggambar sawah," ujarnya dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seminar Peran Perguruan Tinggi Dalam Pembangunan Kelautan di Universitas Hang Tuah Surabaya,&lt;/span&gt; Kamis (4/5). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hal itu menyebabkan potensi kelautan tidak termanfaatkan dengan baik. Setiap tahun Indonesia kehilangan triliunan rupiah akibat pencurian ikan oleh kapal asing. Padahal, 60 persen dari 42 juta penduduk miskin di Indonesia bekerja sebagai nelayan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Sumber daya alam di laut tidak digali dan malah sibuk menggali di darat. Akibatnya, timbul kerusakan lingkungan yang parah. Di negara lain, sumber daya alam di darat disimpan untuk cadangan dan mengutamakan sumber daya dari laut," tuturnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Indonesia membutuhkan politeknik untuk masyarakat pesisir dan perbatasan untuk meningkatkan keterampilan mereka. Selain itu, ia mengusulkan pendirian SMA maritim. Formatnya seperti SMA Taruna Nusantara yang mengumpulkan murid dari seluruh Indonesia. Bedanya, SMA maritim lebih menekankan wawasan kemaritiman. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Rektor Universitas Hang Tuah Sapto J Poerwowidagdo menuturkan, belum semua perguruan tinggi terlibat aktif dalam pembangunan kelautan. Baru beberapa yang menunjukkan keterlibatan reaktif. "Artinya, baru akan terlibat bila ada kepentingannya&lt;/span&gt;," ujarnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="arial" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Padahal, seharusnya perguruan tinggi mengedepankan unsur pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi harus berperan aktif dalam upaya pemberdayaan masyarakat meski tidak bersentuhan langsung dengan kepentingannya. "Pengabdian bisa dilakukan lewat penelitian untuk merekomendasikan langkah pemberdayaan," tuturnya. (RAZ)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0605/05/jatim/52495.htm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-2564154690176456513?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/2564154690176456513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2008/12/pendidikan-harus-berorientasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/2564154690176456513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/2564154690176456513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2008/12/pendidikan-harus-berorientasi.html' title='Pendidikan Harus Berorientasi Kemaritiman'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-4299798744265369989</id><published>2008-11-30T00:32:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T00:40:20.486-08:00</updated><title type='text'>Potret Pendidikan dan Semangat Belajar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/STJQiphh1TI/AAAAAAAAACI/jk_Edw6llgk/s1600-h/windowslivewritertelokmelanobah.2-1304fdsc059162.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/STJQiphh1TI/AAAAAAAAACI/jk_Edw6llgk/s320/windowslivewritertelokmelanobah.2-1304fdsc059162.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274366669796529458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Gemar Membaca yang dilakukan oleh anak - anak masyarakat pesisir pantai di Indonesia, tetap semangat menempuh pendidikan dengan segala keterbatasan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/STJQLdY6UVI/AAAAAAAAACA/oRu1G7Zhaho/s1600-h/belajar_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 203px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/STJQLdY6UVI/AAAAAAAAACA/oRu1G7Zhaho/s320/belajar_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274366271402168658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span&gt;Potret Pendidikan dan Semangat Belajar&lt;/span&gt; yang dilakukan oleh anak - anak masyarakat pedalaman di wilayah Indonesia, sangat antusiasme terhadap dunia pendidikan dengan segala fasilitas yang cukup sangat sederhana. Pendidikan meruapakan tanggung jawab kita semua warga negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-4299798744265369989?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/4299798744265369989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2008/11/potret-pendidikan-dan-semangat-belajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/4299798744265369989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/4299798744265369989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2008/11/potret-pendidikan-dan-semangat-belajar.html' title='Potret Pendidikan dan Semangat Belajar'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/STJQiphh1TI/AAAAAAAAACI/jk_Edw6llgk/s72-c/windowslivewritertelokmelanobah.2-1304fdsc059162.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-8827379703935005930</id><published>2008-11-15T01:08:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T01:32:03.454-08:00</updated><title type='text'>Gedung Rektorat Universitas Hang Tuah Surabaya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SR6V4XTrElI/AAAAAAAAABo/9gr9EjWTH5Q/s1600-h/Rektorat+UHT.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SR6V4XTrElI/AAAAAAAAABo/9gr9EjWTH5Q/s400/Rektorat+UHT.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268813409631801938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:Tahoma;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;KAMPUS LAUT BIRU - UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jalan Arif Rahman Hakim 150. Sukolilo 60111. Surabaya. Jawa Timur. Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Telp : (031) 594 5894 Fax : (031) 594 6261&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;www.hangtuah.ac.id&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:Tahoma;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-8827379703935005930?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/8827379703935005930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2008/11/gedung-rektorat-universitas-hang-tuah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/8827379703935005930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/8827379703935005930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2008/11/gedung-rektorat-universitas-hang-tuah.html' title='Gedung Rektorat Universitas Hang Tuah Surabaya'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SR6V4XTrElI/AAAAAAAAABo/9gr9EjWTH5Q/s72-c/Rektorat+UHT.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3987123539626272246.post-698115910505328822</id><published>2008-11-13T09:27:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T09:28:01.442-08:00</updated><title type='text'>Salam Bahari</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang masih memberikan rahmatnya pada kita semua sehingga kami Tim Redaksi Ombak bisa tetap bekerja sama sampai majalah kebanggaan Fakultas Ilmu Administrasi ini bisa terbit kembali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perlu diketahui, pada penerbitan kali ini OMBAK telah dinahkodai oleh orang-orang baru yan telah mendapatkan bimbingan-bimbingan Jurnalistik oleh para senior dan Bapak/Ibu dosen yang tidak bisa diragukan lagi kemampuannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan adanya kepengurusan baru ini, kami tim ombak berharap bisa memberikan yang lebih baik dari majalah ombak terdahulu yang sudah baik, dan akan selalu berusaha memberikan topik-topik baru yang menarik untuk dibahas dan tetap pada koridor majalah kampus yang fresh, gres, dan yang pastinya selalu mengikuti perkembangan para mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi husunya dan mahasiswa Universitas Hang Tuah umumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Majalah OMBAK yang sekarang ada di tangan tim redaksi ini adalah hasil kerja sama dari seluruh civitas akademika Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Hang Tuah Surabaya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman antar Fakultas yang sudi memberikan bantuan saran dan kritik sehingga majalah OMBAK bisa menjadi lebih baik kedepannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Tema yang kali ini kami angkat adalah tentang PENDIDIKAN yang ada di Indonesia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Telah kita ketahui, begitu kompleksnya masalah pendidikan di Indonesia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jika kita bicarakan, tak akan pernah ada habisnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selalu kita bertanya, sebenarnya tanggung jawab siapakah masalah pendidikan ini? Dan secara tidak kita sadari, pemerintahlah yang selalu dipersalahkan, tidak semestinya semua permasalahan pendidikan kita limpahkan kepada pemerintah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Apalagi ditambah dengan masalah yang baru-baru ini sedang hangat di bicarakan yang tidak lain adalah tentang Ijazah Instan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan begitu, fakta telah membuka sedikit mata hati dan pikiran kita bahwa Institusi-institusi yang terkait dengan penyelewengan pendidikan tersebut juga patut dipersalahkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan begitu, jelas pula, bahwa masalah pendidikan adalah masalah kta bersama dan tanggung jawab kita bersama sebagai warga negara Indonesia yang baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Selain itu,perbedaan pendapat antara ideologi pendidikan dengan komoditi pun sebenarnya sangat menarik untuk dibahas dan kupas sampai habis.karena pada dasarnya ediologi pendidikan yang seharusnya melahirkan orang-orang pintar, para cendekiawan dan para ilmuwan malah dijadikan jalan pintas untuk mencari keuntungan. Seolah-olah pendidikan adalah satu jalur pasar bebas untuk merauk keuntungan yang sebesar-besarnya, yang akhirnya mengorbankan tujuan pendidikan itu sendiri demi kepentingan-kepentingan yang tak bermoral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;”Peribahasa menyebutkan ”Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”jadi jika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanah air ini mengalami kesusahan dalam menangani masalah pendidikan. Maka sudah semestinya kita sebagai warga negara yang baik harus turut ikut andil dalam mengatasi masalah ini.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Kita harus bersama-sama berjuang untuk ikut serta dalam mencari jalan keluar dari masalah pendidikan ini, dengan demikian Indonesia akant tetap menjadi negara yang bersatu dalam menghadapi masalah apapun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak hanya berjuang dalam melawan penjajah, tetapi dalam melawan kebodohan dan penyelewengan pendidikanpun kita bangsa Indonesia harus tetap bersatu. &lt;b style=""&gt;TERIMA KASIH. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3987123539626272246-698115910505328822?l=ombak-fia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ombak-fia.blogspot.com/feeds/698115910505328822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2008/11/salam-bahari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/698115910505328822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3987123539626272246/posts/default/698115910505328822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ombak-fia.blogspot.com/2008/11/salam-bahari.html' title='Salam Bahari'/><author><name>Admin Fakultas Ilmu Administrasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06029460626885470992</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='8' src='http://2.bp.blogspot.com/_EQksLK6y-Po/SRxvYIgbM7I/AAAAAAAAAAM/-zuxX_NriSY/S220/sTEMPEL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
